Rancangan Penelitian

on Selasa, 01 Juli 2014
Rancangan usulan penelitian adalah langkah yang paling awal dalam proses penyusunan penelitian.  Usulan penelitian adalah langkah berikutnya, dan makalah adalah hasil akhirnya.
Rancangan usulan penelitian ini memberi gambaran secara menyeluruh tentang pokok masalah yang hendak diteliti, teori dan konsep serta data yang dipakai untuk melakukan penelitian, cara penelitian dilakukan dan hasil yang diharapkan akan dicapai. Rancangan usulan penelitian ini dipakai untuk menilai apakah seorang itu bisa mulai melakukan penelitian secara mandiri.
uatu penelitian itu mungkin bermaksud dan bertujuan untuk memperoleh data informasi dan kemudian untuk bahan menulis. Adapun kegunaan dari rancangan usulan penelitian,  Seperti :

·         Skripsi
·         Makalah untuk seminar, simposium, dan pertemuan ilmiah lainnya
·         Karangan ilmiah
·         Tesis magister/disertasi doktor
·         Laporan proyek

Bobot dan mutu akademis karangan ilmiah hasil penelitian itu dapat dikaji dan dinilai dari 6 aspek

1.       Aktualitas masalah
Masalah yang diformulasikan haruslah masalah yang masih hangat diperbincangkan/upto date dan banyak mencari perhatian para ahli untuk dicari jawabannya serta juga harus nyata adanya

2.       Relevansi manfaat praktis
Jawaban masalah yang dikemukakan bernilai prakktis, sehingga hasil penelitian bedaya guna serta menjangkau masyarakat luas. Kesimpulan- kesimpulan yang ditarik harus mantap dan saran-sarannya menarik perhatian dan beralasan kuat

3.       Metodologi penelitian akurat
bObot mutu akademis karya tulis hasil penelitian itu ditentukan juga oleh adekuasi rancangan penelitian, instrumentasi dan pengukuran, metodologi penulisannya juga ikut menentukan bobot nilai/ mtu akademis karya tulis ilmiah

4.       Orisinalitas penelitian
Penelitian disebut orisinal bila bahan dan atau metode yang digunakan belum pernah dilakukan oleh peneliti lain, setidak-tidaknya menurut jangkauan informasi yang tersedia. Dengan kata lain walaupun bahan sama tetapi metodenya beda, maka penelitian itu dianggap penelitian orisinal dan juga sebaliknya jika bahan beda tapi metode sama itu juga digolongkan penelitian orisinal

5.       Sumbangan terhadap ilmu pengetahuan
Penelitian yang bersipat integratif dan konprehensif yaitu penelitian yang hasilnya merupakan kebulatan dan menyeluruh

6.       Sistematika penyusunan karya tulis
Ketajaman logika (way of thinking) dan urutan serta kaitan logika (flow of thought) ini mengarahkan sistematika dan jelasnya pokok persoalan dalam karya tulis, apabila materi yang terkumpul dikomunikasikan secara konsisten dengan menjaga relevansi setiap aspek, sedemikian sehingga kalimat yang satu berhubungan dean berkaitan maka komunikasi yang dibuat akan lebih epektiif
rancangan usulan penelitian adalah langkah yang paling awal dalam proses penyusunan penelitian. Usulan penelitian adalah langkah berikutnya, dan makalah adalah hasil akhirnya.
Rancangan usulan penelitian ini memberi gambaran secara menyeluruh tentang pokok masalah yang hendak diteliti, teori dan konsep serta data yang dipakai untuk melakukan penelitian; cara penelitian dilakukan dan hasil yang diharapkan akan dicapai. Rancangan usulan penelitian ini dipakai untuk menilai apakah seorang itu bisa mulai melakukan penelitian secara mandiri.

RANCANGAN USULAN PENELITIAN Terdiri Dari 3 Bagian Pokok

Rancangan usulan penelitian  sekurang-kurangnya memuat unsur-unsur pokok sebagai berikut :

Bagian Awal
Judul penelitian yang direncanakan akan dilakukan.
Ditulis dengan huruf kapital, judul harus “ekspressif”, singkat tetapi informatif, yaitu menunjukkan dengan tepat masalah yang akan diteliti, dibawah judul ditulis kalimat “rancangan usulan penelitian untuk……. (skripsi, tesis, laporan dll)

Identitas penyusun rancangan.
Diahului dengan kata oleh lalu ditulis nama peneliti, atau identitas lainnya yang dianggap penting

Tanggal pengajuan rancangan
Didahului dengan kalimat “ diajukan kepada ….., pada tanggal….

Bagian Utama
Bagian utama meliputi :
Perumusan masalah
Berisi tengtang penjelasan mengapa masalah yang dikemukan dalam judul dianggap menarik, penting, dan perlu di teliti. Dalam perumusan masalah perlu bukti bahwa masalah itu belum ada jawabannya atau pemecahannya(yang memuaskan) dalam perumusan masalah juga dikemukakan konteks masalah itu dengan permasalahan lain. Unsur pokok perumusan masalah ini sekurang-kurangnya harus memuat hal-hal sebagai berikut :
·         Penjelasan mengenai mengapa masalah yang dikemukakan dalam rancangan usulan penelitian untuk disertasi itu dipandang menarik, penting dan perlu diteliti.
·         Beberapa bukti bahwa masalah tersebut belum ada jawaban atau pemecahan yang memuaskan.
·         Letak masalah yang akan diteliti itu dalam konteks permasalahan yang lebih besar.
·         Tujuan dan kegunaan penelitian.
·         Secaa eksklusif dan spesifik harus diseebutkan maksud dan tujuan penelitian, kegunaan dan arti pentingnya hasil penelitian yang diharapkan.

Kerangka pemikiran teoritis.
Dalam bagian ini dikemukakan tengtang garis-garis besar pemikiran teoritis sedemikian sehingga jelas “pokok permasalahan”nya.  Kerangka pemikiran yang logis itu dapat pula disusun berdasarkan hasil observasi lapangan atau dari pertemuan ilmiah

Hipotesis kerja
Tidak semua penelitian memiliki hipotesis tetapi jika penelitian itu ada hipotesis, maka hipotesis harus dirumuskan dengan tepat, singkat, jelas dalam kalimat berita atau “kalimat deklaratif”

Metode penelitian.
Dalam metode penelitian disebutkan beberapa maslah, yaitu :

1.       Penentuan subjek penelitian, penentuan sampel yang akan dugunakan, penentuan ‘ sampling design’  yang akan dipakai, dan teknik pengambilan sampel
2.       Metode pengumpulan data, alat pengukuran, dan cara pengukuran semuannya ditulis secara jelas
3.       Bahan yang akan dipakai (bahan kimia, obat-obatan dan sebagainya) perlu disebutkan spesipikasinya dan pabrik yang mengeluarkan jika ada, bila bahan berupa hewan disebutkan ras, jenisnya dan asalnya dan sedemikian juga jika bahannya adalah tumbuhan
4.       Dalam bagian ini perlu disebutkan alat perlengkapan untuk laboratoeium atau untuk lapangan yang aka dipakai
5.       Teknik atau model analisis (statistik) yang akan dipakai dan perlu dijelaskan mengapa memakai metode statistik tersebut
6.       Jika perlu disertakan rancangan untuk menerima atau menolak hipotesis dengan menggunakan hipotesis nihil



Jadwal penelitian.
 Dalam bagian ini perlu pertimbangan kelayakannya, jadwal penelitian perlu dibagi-bagi berdasarkan tahap-tahap penelitian (hari, minggu, dan bulan) Jadwal penelitian dibuat secara cermat, dengan mempertimbangkan kelayakannya. Jadwal penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut :

1.       Tahap-tahap penelitian yang akan dilakukan.
2.       Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan masing-masing tahap, dinyatakan dalam satuan bulan.
3.       Rincian kegiatan untuk tahap masing-masing.


Bagian Akhir
Daftar pustaka
Penulisan daftar pustaka didasarkan atas pustaka yang telah dijadikan sumber dalam penyusunan rancangan usulan penelitian. Tujuan utama penyajian daftar pustaka adalah memberi informasi mengenai bagaimana orang dapat dengan mudah menemukan sumber yang disebutkan dalam rancangan usulan penelitian. Hal-hal yang perlu disebutkan dalam daftar pustaka adalah seperti disebutkan dibawah ini :

Untuk buku :
1.       Nama penulis
2.       Untuk jurnal :
3.       Untuk sumber pustaka lain dapat digunakan pedoman yang lazim.
4.       Cara menulis pustaka dan artikel sesuai ketentuan yang berlaku.
5.       Tahun penerbitan
6.       Judul buku
7.       editor
8.       jilid ke-
9.       nama penerbit
10.   Tempat penerbitan.
11.   halaman

·         Nama penulis
·         Tahun penerbitan
·         Judul tulisan
·         Nama jurnal
·         Jilid ( dan nomor )
·         Halaman.

Penyajian Naskah
Pengetikan
1.       Rancangan usulan penelitian untuk disertasi diketik dengan jarak 1,5 spasi.
2.       Huruf yang digunakan huruf Times New Romans ukuran 12 point, 10 ketukan tiap inci.
3.       Untuk seluruh naskah dipergunakan tipe huruf yang sama.
4.       Lambang, huruf atau tanda yang tidak dapat dibuat dengan mesin tulis ditulis dengan rapi menggunakan tinta hitam. Kata asing ditulis dengan huruf Italic.
5.       Huruf kursif diganti dengan huruf biasa dengan diberi garis dibawahnya.
6.       Alenia baru diberi indensi (masuk) 5 ketukan.
Jarak Tepi
Ketikan terletak :
·         Dari tepi atas : 4 cm
·         Dari tepi bawah : 3 cm
·         Dari tepi kiri : 4 cm
·         Dari tepi kanan : 3 cm

Nomor Halaman
Halaman naskah rancangan usulan penelitian untuk disertasi dan rujukannya diberi nomor urut dengan angka Arab, dimulai dengan angka 1. Semua nomor halaman diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 2,5 cm dari tepi atas.



Adjective Clause

on Kamis, 12 Juni 2014
Adjective clauses or adjective clause is a dependent clause that has a subject and a predicate that does not stand alone in a sentence. The adjective clauses function as well as adjectives that describe nouns (noun) or pronouns (pronoun).

Consider the following example:
- The red coat (adjective)
- The which the coat I bought yesterday (adjective clause)

Just as the word "red" in the first instance, the dependent clause "which I bought yesterday" in the second example also describes the noun "coat". Adjective clause is located after nouns or pronouns are explained, while the adjective is earlier.


There are two types of words used in adjective clauses, ie relative pronouns and subordinate conjunctions.

1. Adjective clauses with relative pronouns: who, Whom, Whose, roomates, and that.
- Krakatoa, the which is a volcano on an Indonesian island, exploded.
- People who lived 3,520 kilometers away heard the noise.
- The Thousands Whom the tidal wave killed lived on the island of Java.
- A mole is an animal that lives underground.
- You'd be surprised at the number of children in this school Whose parents are divorced.

Relative pronouns in adjective clauses functioning position or describe nouns earlier. Note the first and second sentence above, relative pronouns are used to function as a subject in adjective clauses. While in the third sentence, the relative pronoun acts as the direct object of the verb.

2. Adjective clauses with subordinate conjunctions: when, where, and why.
- People still speak of the day when the explosion Occurred.
- The ocean covered the place where the volcano had been.
- Only Scientists can explain the reason why this disaster happened.
- Often I walk past the house where I was born.
- Do you remember that time when you fell into the swimming pool?
- I do not remember the reason why I went there.


Comma (,) in Adjective Clauses
If a clause is a meaning or meanings that are important (essential) then it is not necessary in the sentence punctuation comma (,).
- The man who wrote about the explosion was an Eyewitness.
Clauses who wrote about the explosion necessary and important to explain the man who is the subject of the sentence. Therefore it is not necessary commas.

But if the clause that only adds to the information from the subject of the sentence that has been clearly stated, it would require a comma (,).
- R.D. Verbeck, who was an Eyewitness, wrote about the explosion.
Clause was an Eyewitness who simply complete the information on the subject of the sentence is already known name.


Eliminate word Liaison (subordinating Word)
Note that the conjunction is often omitted from restrictive adjective clauses.
- The blast you read about Occurred in 1883.
- This is the place we saw the accident.
Or roomates said that in the first sentence above is eliminated after the blast said. In the second sentence, where eliminated after the said place.

If the conjunctive (subordinator) is the subject of the clause (the subject of the clause), then the conjunctions should not be omitted.
- That Is The place that looks dangerous. (Subject)
- The man who wrote about it saw it. (Subject)
- The blast (that) you read about Occurred in 1883.
- The blast that Occurred in 1883 was very destructive. (Subject)
- The ocean covered the place (where) the volcano had been.
- Give us the reason (why) this disaster happened.


Note

Adjective clauses that have meaning or meanings in the text referred to as restrictive (essential) clause, whereas if the function only adds to the information called nonrestrictive (nonessential) clause.

http://catatanbahasainggris.blogspot.com/
http://bahasainggrisonlines.blogspot.com/

The Economy Of Indonesia

1.       Ir.Soekarno
Dr. (HC) Ir. Sukarno was Indonesia's first president, who served in the period 1945-1966.Ia play an important role to liberate the nation from colonial Belanda.Soekarno Indonesia is Pancasila digger because he who first proposed a concept on the basis of the Indonesian state and he himself was named Pancasila.Ia Proclaimer of Indonesian Independence (along with Mohammad Hatta) which occurred on August 17, 1945.

Soekarno signed March 11, 1966 Warrant Supersemar controversial, the content - based version released Army Headquarters - commissioned Lieutenant General Suharto to secure and maintain the security of the state and institutions kepresidenan.Supersemar the basis Lt. Gen. Suharto to dissolve the Communist Party of Indonesia (PKI ) and replace the members who sit on the accountability parlemen.Setelah rejected the People's Consultative Assembly (MPRS) in the fourth general assembly of 1967, President Sukarno was dismissed from his post as president of the Special Session of the Assembly in the same year and appointed Soeharto as official President of the Republic of Indonesia



2.       Soeharto
Haji Muhammad Suharto was the second President of Indonesia (1967-1998), replacing Sukarno. In the international world, especially in the Western World, Suharto often referred to as the popular "The Smiling General" ("The General is Smiling") because his face is always smiling in front of the press in any official state event. SDoeharto donobatkan as the most influential president in the history of Indonesia have led the country until nearly 35 years. Kepemimopinannya firm and hard turns, making Indonesia a nation that is safe, stable and can carry out the construction of the well.

Before becoming president, Suharto was a military leader during the Japanese occupation and the Netherlands, with the rank of Major General. After the 30 September Movement, Suharto stated that PKI is the responsible party and led the operation to put it down. The operation killed more than 500,000 people. Suharto then seized power from Sukarno, and officially became president in 1968. He was re-elected by the Assembly in 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, and 1998. In 1998, his term ends after stepping down on May 21, the year, following the May 1998 riots and occupation of DPR / MPR building by thousands of students. He is the longest in the Indonesian presidency. Suharto was replaced by B.J. Habibie.

Many factors influence why Suharto was considered most of the people as the greatest president. Actually it is not easy to assess the achievements and greatness of a president who has ruled. Every president is there, age and different challenges. But in addition to a variety of achievements, Suharto became very great because then people have seared her brain with pecitraan president who does not have a disability and are always right. It happened because of the influence of mass media positioned Suharto was a god who is never wrong.

It is undeniable greatness of Suharto in leading nearly 32 years. Suharto, perform detailed construction of phase to phase. Early stages of agriculture do is build after the speaking industry, and so forth. In the field of economic development and agriculture is lower the inflation rate from 650% to 12% in the first few years of his leadership. In addition, he also had a big hand in the development of irrigation agriculture spread throughout the archipelago, which until now has not been a president who is able to build a number of agricultural irrigation

Living in an authoritarian Suharto era and an iron fist. Maybe not one of the government's pattern of his time. Since that time Indonesia was still in a state of unity, unity and security is still very bad. So is the education level of the people and the economy is still not high. With government and non-democratic authoritarian Suharto was able to build this nation faster and better.

Not only that, in the era of press freedom is still chained Suharto leadership figure who is never wrong and always right. Because, no one dared the reporter writing the Soeharto weakness. If brave directly in "Petrus" or go to jail right with subversion charges. so when it Suharto was a god without the slightest flaw.

Circumstances when it is also safe because when the media can be controlled in the news process. Every news pin drop sound that can make the nation's instability then instantly muted. So when the brain is recorded in the public atmosphere in a safe condition. Yet when it was too much unrest, corruption, rebellion, and various other crimes

3.       Bacharuddin Jusuf Habibie
Bacharuddin Jusuf Habibie was the third President of the Republic of Indonesia. It replaces the Suharto resigned as president on May 21, 1998. His post was replaced by Abdurrahman Wahid (Gus Dur) who was elected president on October 20, 1999 by the Assembly election results 1999. With served for 2 months and 7 days as vice president, and 1 year and 5 months as president, Habibie is also the Vice President and the President of Indonesia with the shortest tenure.

In 1955-1965 he went on to study aeronautical engineering, aircraft construction specialties, at the RWTH Aachen, West Germany, received the degree of Diplom ingineur in 1960 and a doctorate ingineur in 1965 with summa cum laude. Habibie had worked at Messerschmitt-Bölkow-Blohm, an airline company based in Hamburg, Germany, to reach the peak of his career as a vice president of technology. In 1973, he returned to Indonesia at the request of former president Suharto.

He later served as Minister of State for Research and Technology since 1978 until March 1998. Prior to serving President (May 21, 1998-20 Oktober 1999), BJ Habibie was Vice President (March 14, 1998 - May 21 1998) in Development Cabinet under President Soeharto. He was appointed chairman of ICMI (Association of Indonesian Muslim Intellectuals), in his tenure as minister.

4.       Kiai Haji Abdurrahman Wahid
Kiai Haji Abdurrahman Wahid, Gus Dur was nicknamed Indonesian Muslim leaders and political leaders who became the fourth President of Indonesia from 1999 to 2001. He replaces President BJ Habibie after being selected by the Assembly election results 1999. Implementation of government assisted by the Cabinet of National Unity. Abdurrahman Wahid's presidency began on October 20, 1999 and ending at the Special Session of the Assembly in 2001. Exactly July 23, 2001, his leadership was replaced by Megawati Sukarnoputri after its mandate revoked by the Assembly. Wahid is a former chairman of Tanfidziyah (executive body) of the Nahdlatul Ulama and the founder of the National Awakening Party (PKB).

Abdurrahman Wahid was born on the 4th and 8th month of Islamic calendar Denanyar 1940 in Jombang, East Java from the couple Wahid Hasyim and Solichah. There is a belief that he was born on August 4, however, the calendar used to mark the day of his birth is the Islamic calendar, which means he was born on the 4th of Sha'ban, equal to 7 September 1940. Was born with the name Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" means "the Conqueror". Said "Addakhil" is not well known and replaced the name "Wahid", and later known as Gus Dur calls. "Gus" is a distinctive honor boarding call to a child kiai means "brother" or "mas". Gus Dur is the first son of six children. Wahid was born in a very respectable family in East Java Muslim community. Grandfather of his father is K.H. Asyari Hashim, the founder of Nahdlatul Ulama (NU), while his maternal grandfather, KH Bisri Syansuri, was the first boarding school teacher who teaches a class on women [3]. Wahid's father, K.H. Wahid Hasyim, was involved in the Nationalist Movement and became Minister of Religious Affairs in 1949.'s Mother, Mrs.. Hj. Sholehah, is the daughter of the founder of Islamic boarding school in Jombang Denanyar. His brother was Salahuddin Wahid and Lily Wahid. He was married to Sinta Nuriyah and had four daughters: Alisa, Yenny, Anita, and Inayah.

5.       Megawati Soekarnoputri
Megawati or Mega is commonly known as the fifth President of Indonesia who served since 23 July 2001-20 October 2004. It is Indonesia's first female president and the first president of Indonesia children who follow in the footsteps of his father became president. On 20 September 2004, he was defeated by Susilo Bambang Yudhoyono in the second stage of the 2004 presidential election. He became president after the Assembly held a special session of the Assembly in 2001. Assembly Special Session was held in response to the step of President Abdurrahman Wahid (Gus Dur) were freeze agency MPR / Parliament and the Golkar Party. He was sworn in on July 23, 2001. Previously from 1999-2001, he was Vice President under Gus Dur. Megawati is also the chairman of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) since the split from the Indonesian Democratic Party in 1999.

Megawati is the second son of President Sukarno, who had proclaimed the independence of Indonesia on August 17, 1945. Bengkulu birth mother Fatmawati where Sukarno was exiled first in the Dutch colonial period. Megawati grew up in an atmosphere of luxury at the Presidential Palace. He's been studying at Padjadjaran University in Bandung (not to graduate) in agriculture, in addition to also studied at the Faculty of Psychology, University of Indonesia (but not until graduation). Mega political career full of twists that seemed consistent with the line of home life that never fail. Her first husband, an Air Force pilot, was killed in a plane crash in the sea around Biak, Irian Jaya. At that time the age of the Mega still early twenties with two young children. However, he re-establish love with a man from Egypt, but the marriage did not last long. Happiness and peace of the household life is felt after she married Moh. Taufiq Kiemas, GMNI fellow activists in the past, which also became one of the driving PDIP.

6.       Susilo Bambang Yudhoyono
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, President of Indonesia is the 6th who served since October 20, 2004. He, along with Vice President Muhammad Jusuf Kalla, was elected in the 2004 presidential election. Continue his reign he managed to win the second period with back 2009 Presidential election, this time with Vice President Boediono. Thus, since the reform era began, President Susilo Bambang Yudhoyono is Indonesia's first presidency finish for 5 years and successfully re-elected for a second term.


Yudhoyono was born in Pacitan, East Java, on 9 September 1949 of child Raden couples and Siti Habibah Soekotjo. From his pedigree can be traced to Pakubuwana and have a relationship with the breed Hamengkubuwana II. Like his father, he was involved in the military world. In addition to living in the family residence in Bogor (West Java), the President also stayed at the State Palace, Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono is married to Christian Herath who was the third daughter of Gen. (ret) Sarwo Edhi Wibowo (late). Military commander Gen. Sarwo Edhi Wibowo helped crush the PKI (Indonesian Communist Party) in 1965.

SECONDHAND SERENADE

on Jumat, 30 Mei 2014
"Stranger"

Turn Around
Turn Around and fix your eye in my direction
So there is a connection
I can't speak
I can't make a sound to somehow capture your attention
I'm staring at perfection
Take a look at me so you can see
How beautiful you are

You call me a stranger
You say I'm a danger
But all these thoughts are leaving you tonight
I'm broke and abandoned
You are an angel
Making all my dreams come true tonight

I'm confident
But I can't pretend I wasn't terrified to meet you
I knew you could see right through me
I saw my life flash right before my very eyes
And I knew just what we'd turn into
I was hoping that you could see
Take a look at me so you can see

You call me a stranger
You say I'm a danger
But all these thoughts are leaving you tonight
I'm broke and abandoned
You are an angel
Making all my dreams come true tonight

You are an angel
Making all my dreams come true tonight

Take a look at me so you can see
How beautiful you are


Your beauty seems so far away
I'd have to write a thousand songs to make you comprehend how beautiful you are

I know that I can't make you stay
But I would give my final breath to make you understand how beautiful you are
Understand how beautiful you are

You call me a stranger
You say I'm a danger
But all these thoughts are leaving you tonight
I'm broke and abandoned
You are an angel
Making all my dreams come true tonight

You call me a stranger
You say I'm a danger
You call me a stranger

Laporan Ilmiah

on Selasa, 27 Mei 2014
1.      Pengertian laporan ilmiah
Laporan ilmiah adalah suatu wahana penyampaian berita, informasi, pengetahuan atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan ini dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang di sampaikan secara tertulis merupakansuatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, makan laporan ini termasukjenis karangan ilmiah. Dengan kata lain , laporan ilmiah sejenis karangan ilmiah yang mengupas masalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang sengaja disusun untuk disampaikan kepada orang-orang tertentu dan dalam kesempatan tertentu.

Dasar Membuat laporan ilmiah
Ada beberapa hal yang mendasari dalam pembuatan laporan ilmiah. Diantaranya :
·         Kegiatan menulis laporan ilmiah merupakan kegiatan utama terakhir dari suatu kegiatan ilmiah.
·         Laporan ilmiah mengemukakan permasalahan yang ditulis secara benar, jelas, terperinci, dan ringkas.
·         Laporan ilmiah merupakan media yang baik untuk berkomunikasi di lingkungan akademisi atau sesame ilmuan.
·         Lsporan ilmiah merupakan suatu dokumen tentang kegiatan ilmiah dalam memecahkan masalah secara jujur, jelas, tepat prosedur, alat, hasil temuan, serta implikasinya.
·         Laporan ilmiah dapat digunakan sebagai acuan bagi ilmuan lain sehingga syarat-syarat tulisan ilmiah berlaku juga untuk laporan.

Jenis – jenis laporan ilmiah
Ada 3 jenias dalam laporan ilmiah , antara lain :
Laporan lengkap
Menjelaskan apa yang ada dalam laporan ilmiah ini secara menyeluruh , teknik dalam menyusunpun harus sesuai dengan aturan, harus sesuai dengan kenyataan yang ada, tidsk hanya menuliskan keberhasilan saja namun juga kegagalan yang pernah di alami dalam proses membuat laporan ilmiah ini.
Artikel ilmiah
Biasanya merupakan perasan dari laporan lengkap, harus di fokuskan pada masalah tunggal dan harus objektif, dan merupakan pemantapan dari laporan laporan yang sudah ada dilaporan lengkap.
Laporan ringkas
Menulis kembali laporan yang sudah ada namun ditulis dengan lebih ringkas dan dengan menggunakan Bahasa yang tidak terlalu baku agar mudah dikonsumsi oleh masyarakat.



Fungsi laporan ilmiah
·         Memberitahukan atau menjelaskan tanggung jawab tugas dan kegiatan.
·         Memberitahukan atau menjelaskan dasar penyusunan kebijaksanaan, keputusan atau pemecahan masalah.
·         Merupakan sumber informasi.
·         Merupakan bahan untuk pendokumentasian.

Tujuan laporan ilmiah
·         Mengatasi suatu masalah,
·         Mengambil suatu keputusan yang lebih efektif.
·         Mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah.
·         Mengadakan pengawasan dan perbaikan.
·         Menemukan teknik–teknik baru.


Ciri – ciri laporan ilmiah yang baik
·         Menggunakan Bahasa ilmiah.
·         Laporan disertakan oleh identifikasi masalah.
·         Data yang digunakan harus lengkap.
·         Ada kesimpulan dan saran.
·         Laporan dibuat menarik dan juga interaktif

2.      Sistematika Laporan
Ilmiah Laporan ilmiah dapat berbentuk naskah atau buku karena berisi hal-hal yang terperinci berkaitan dengan data-data yang akurat dan lengkap. Secara umum, sistematika suatu laporan yang lengkap terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup.

1.      Bagian Pembuka
Bagian pembuka umumnya digunakan apabila laporan merupakan tulisan yang berdiri sendiri secara utuh. Untuk laporan penelitian dalam jurnal atau bagian dari sebuah buku, tidak seluruh unsur dalam bagian pembuka tersebut digunakan. Bagian pembuka ini terdiri atas :
a. Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi asal, kota penyusunan, dan tahun
b. Halaman pengesahan (jika perlu)
c. Halaman motto/semboyan (jika perlu)
d. Halaman persembahan (jika perlu)
e. Prakata;
f. Daftar isi;
g. Daftar tabel (jika ada)
h. Daftar grafik (jika ada)
i. Daftar gambar (jika ada)
j. Abstak : uraian singkat tentang isi laporan

2.      Bagian Isi
Bagian isi merupakan menyajikan atau mengomunikasikan informasi ilmiah yang ingin disampaikan. Pada bagian isi inilah seluruh komponen pendahuluan, kajian pustaka dan kerangka teori, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta simpulan dan saran disajikan secara lengkap. Bagian isi terdiri dari :

a.       Bab I Pendahuluan
Pendahuluan merupakan tulisan yang disusun untuk memberikan orientasi kepada pembaca mengenai isi laporan penelitian yang akan dipaparkan, sekaligus perspektif yang diperlukan oleh pembaca untuk dapat memahami informasi yang akan disampaikan Pendahuluan terdiri atas :
1.      Latar belakang
2.       Identitas masalah
3.      Pembatasan masalah
4.      Rumusan masalah
5.      Tujuan dan manfaat

b.      Bab II :
Kajian Pustaka
Kajian pustaka mengungkapkan teori-teori serta hasil-hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan pada topik yang sama atau serupa. Berdasarkan analisis terhadap pustaka tersebut, peneliti dapat membatasi masalah dan ruang lingkup penelitian, serta menemukan variabel penelitian yang penting dan hubungan antarvariabel tersebut.

c.       Bab III
Metode
Pada bagian ini biasanya dijelaskan secara rinci mengenai desain penelitian, populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan dan analisis data, serta kelemahan penelitian.

d.      Bab IV :
Pembahasan
Pembahasan pada dasarnya merupakan inti dari sebuah tulisan ilmiah. Pada bagian ini penulis menyajikan secara cermat hasil analisis data serta pembahasannya berdasarkan kajian pustaka dan kerangka teori yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

e.       Bab V :
Penutup
Penutup berisi tentang kesimpulan dan saran dari laporan ilmiah tersebut. Kesimpulan adalah gambaran umum seluruh analisis dan relevansinya dengan hipotesis dari penelitian yang dilakukan. Kesimpulan diperoleh dari uraian analisis, interpretasi dan deskripsi yang telah dituliskan pada bagian analisis dan pembahasan. Untuk menulis simpulan, penulis perlu mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang hasil apa yang paling penting dari penelitian yang dilakukan. Jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang dituliskan pada bagian simpulan. Pada bagian akhir, biasanya simpulan disertai dengan saran mengenai penelitian lanjut yang dapat dilakukan

3.      Bagian Penutup
a. Daftar Pustaka
b. Daftar Lampiran
c. Indeks daftar istilah

3. Langkah-Langkah Membuat Laporan
Agar dapat menyusun laporan yang baik dan efektif, perlu dipersiapkan dengan matang. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah seperti berikut.
1. Menetapkan tujuan laporan Pembuat laporan harus tahu, untuk apa laporan dibuat dan siapa yang akan membaca laporan tersebut.

2. Menentukan Bahan Laporan Bahan-bahan laporan yang dapat digunakan adalah:
1)      surat-surat keputusan
2)      notulen hasil rapat
3)      buku-buku pedoman
4)      hasil kegiatan
5)      hasil penelitian
6)      hasil diskusi

3. Menentukan cara penngumpulan data Cara pengumpulan data yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1.      Membuat petunjuk pelaksanaan bagi peneliti yang menjelaskan sasaran dan penyesuaian kegiatan
2.      Melakukan wawancara
3.      Mengumpulkan dokumen pelaksanaan kegiatan
4.      Penyusunan daftar pengecekkan untuk melihat data yang ada dan yang tidak ada

4. Mengevaluasi Data Data yang telah dikumpulkan dievaluasi untuk dibuat suatu simpulan.
5. Membuat Kerangka Laporan Kerangka laporan dibuat sesuai dengan sistematika laporan.

4. Teknik Penulisan Daftar Pustaka
Daftar pustaka atau bibliografi yang berisi buku, makalah, artikel, atau bahan lainnya mempunyai pertalian dengan sebuah tulisan atau sebagian dari tulisan yang sedang dibuat. Melalui daftar pustaka, pembaca dapat mengetahui keseluruhan sumber yang digunakan dalam tulisan yang dibacanya sehingga dapat merujuk pada sumber asli Unsur-unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara berturut-turut meliputi: nama penulis, tahun penerbitan, judul tulisan, kota tempat penerbitan, dan nama penerbit.
Penulisan daftar pustaka, secara umum adalah sebagai berikut.
1. Daftar Pustaka disusun secara alfabet (A,B,C,.....) berturut-turut dari atas ke bawah tanpa menggunakan angka arab, tanda hubung, dan semacamnya.

2. Cara penulisan sebuah sumber pustaka berturut-turut adalah sebagai berikut.
a. Penulisan nama pengarang Nama pengarang bagian belakang (nama akhir atau nama keluarga) ditulis lebih dahulu, diikuti tanda koma baru nama bagian depan kemudian diikuti titik. Jika buku disusun oleh sebuah komisi atau lembaga, dipakai menggantikan nama pengarang. Jika tidak ada nama pengarang, urutannya harus dimulai dengan judul buku.
b. Menuliskan tahun terbit buku, diikuti tanda titik
c. Menuliskan judul buku, diberi garis bawah atau ditulis dengan huruf miring, diikuti tanda titik
d. Menuliskan tempat atau kota penerbitan, diikuti tanda titik dua.
e. Menuliskan nama penerbit dan diikuti tanda titik

3. Apabila digunakan dua sumber pustaka atau lebih yang sama penulisnya, sumber ditulis dari buku yang lebih dulu terbit diikuti buku yang terbit kemudian.

4. Bila tidak ada nama penulis, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan alfabet.

5. Jarak antara baris dan baris untuk satu referensi adalah satu spasi tetapi jarak antara pokok dengan pokok adalah dua spasi.

6. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak empat ketukan mesin tik.

7. Apabila sebuah referensi ditulis oleh lebih dari dua orang penulis, hanya satu nama yang dicantumkan dalam daftar pustaka dengan susunan nama terbalik. Untuk nama penulis lainnya disingkat dkk atau dll.

E. Format Penulisan Laporan
Ukuran dan Jenis Kertas Format penulisan sesuai dengan sistematika laporan formal di atas. Format penulisannya tergambarkan dalam daftar isi dengan pengetikan atau penulisan yang teratur, terperinci, dan jelas bagian-bagiannya. Adapun teknik penulisan meliputi hal-hal sebagai berikut
1. Margin Ukuran margin terdiri atas batas kiri dan batas atas 4 cm. Serta batas kanan dan batas bawah 3 cm dari pinggir kertas. Semua tulisan termasuk tabel dan gambar berada dalam margin. Subjudul bagian bawah halaman harus diikuti dengan dua baris penuh di bawahnya, bila tidak memungkinkan subjudul ditulis pada halaman berikutnya. Begitupun kata terakhir pada suatu halaman tidak boleh dipisahkan ke halaman berikutnya tetapi seluruh kata ditulis pada halaman berikutnya.

2. Spasi Secara umum keseluruhan tulisan menggunakan spasi ganda. Kecuali untuk tabel, daftar pustaka, dan kutipan mempergunakan pula spasi tunggal (sesuai dengan aturan penulisan kutipan dan daftar pustaka). Alinea baru dapat dimulai dengan perbedaan spasi.

3. Penomoran Penomoran meliputi penomoran halaman, bab, subbab, dan rincian uraian.
a. Penomoran Halaman Halaman-halaman pendahuluan diberi nomor dengan menggunakan angka romawi kecil. Halaman-halaman isi dan penunjang menggunakan angka arab. Letak penomoran halaman ditempatkan di tengah dan dua spasi di atas margin bawah (bottom, center, headfooter 2,2 cm)
b. Penomoran Bab dan Subbab Penomoran mempergunakan penanda urutan sebagai berikut.
1.      Tingkat pertama dengan tanda: I, II, III, IV, V, dan seterusnya.
2.       Tingkat kedua dengan tanda: 1.1, 1.2, 1.3, 1.4, 1.5, dan seterusnya.
3.      Tingkatan ketiga dengan tanda: 1.1.1, 1.1.2, 1.1.3, 1.1.3, 1.1.4, 1.1.5, dan seterusnya.
4.      Tingkatan keempat dengan tanda: 1.1.1.1, 1.1.1.2, 1.1.1.3, 1.1.1.4, dan seterusnya.
5.      Tingkatan kelima dengan tanda: 1.1.1.1.1, 1.1.1.1.2, 1.1.1.1.3, 1.1.1.1.4, dan seterusnya.

4. Tabel atau Gambar
a. Tabel Sebuah tabel terdiri atas nomor dan judul tabel, stub, box head, dan body. Nomor tabel ditulis dengan angka arab. Penomoran tabel menurut bab, misalnya nomor tabel 2.1, artinya tabel tersebut tabel pertama yang ada pada bab kedua. Judul harus padat dan dapat memberikan keterangan tentang data yang tercantum dalam tabel. Judul ditulis dengan huruf kapital setiap unsur katanya kecuali kata hubung. Apabila tabel bersumber pada tulisan atau referensi lain, tuliskan sumber referensinya pada bawah tabel.
b. Gambar Istilah gambar mencakup di dalamnya diagram bundar, batang, garis, histogram, dan sebagainya. Gambar harus diberi nomor dan judul. Pemberian nomor dan judul tidak berbeda dengan pemberian nomor dan judul pada tabel. Perbedaannya terletak pada penempatan. Nomor dan judul gambar diletakkan di bawah gambar.

5. Bahasa Bahasa yang dipergunakan dalam laporan ilmiah harus mengandung kejelasan dan reproduktif. Untuk ejaan dan peristilahan berpedoman pada EYD dan Pedoman Pembentukan Istilah.

6. Jenis Kertas Jenis kertas yang dipakai adalah jenis HVS, ukuran folio, atau kuarto bergantung pada aturan yang telah ditetapkan.

sumber:
http://panduanguru.com
http://www.pengertianahli.com
http://mikhaanitaria.blogspot.com